Resep Cumi Woku Tinta

Cumi Woku Tinta ala Manado


Cumi dalam bahasa Manado disebut ‘suntung’ . Makanan sarat protein namun berkadar kolesterol yang cukup tinggi, bercita rasa mantap dilidah ini  memang sangat akrab dengan masyarakat pesisir pantai. 

Resep Cumi Woku Tinta
Cumi Woku Tinta

Yaa seperti saya ini, masa kecil  dihabiskan di daerah pesisir pantai kota Manado. Sehari harinya kami lebih sering bermain dipantai, berlari lari dipasir hitam .. * pantai di dekat rumah saya tidak berpasir putih… Mandi di pantaipun seolah tanpa beban. Tanpa perlu berkostum ala kolam renang. pakai celana pendek dan kaos bahkan pakai daster sekalipun dan kemudian nyebur di air lautpun oke oke saja,.

Jika saat pasang surut tiba, kamipun berbondong bondong menuju ke pantai, menikmati pasang surut yang dalam bahasa Manado disebut ‘tandusang’. Saat itu laut surut berpuluh puluh meter dan yang tertinggal hanyalah pasir, batu batu dan karang dengan sedikit genangan air disekelilingnya. 

Batu batu itu juga tidak sembarang batu, karena dibaliknya juga dihuni berbagai hewan air, mulai dari aneka ikan hias, udang bahkan teripang lautpun sering kami temukan dibalik batu saat tandusang ini.

Hahaha ternyata tidak terlalu berlaku juga pepatah yang dulu mengatakan ‘ada udang dibalik batu’, karena tidak hanya udangpun yang kami temui dibalik batu.  

Saat pasang surut ini, saya dan teman teman suka membawa kaleng atupun rantang yang ‘diculik’  dari dapur untuk mengumpulkan ikan ikan hias yang lucu lucu untuk dipelihara di rumah, dan bahkan juga mengumpulkan teripang laut untuk dimasak sebagai lauk keluarga kami. 

Tidak hanya itu. Pada saat pasang surut,berbagai  kerang laut   pada bertebaran, baik yang sudah mati dan tinggal cangkangnya maupun yang masih hidup. Tinggal ngambil aja seperti memungut batu dikali dan masukkan wadah… sudah deh, bawa pulang aneka kerang yang bisa dijadikan hiasan di rumah.

Selain kerang juga begitu banyak bintang laut bertebaran. Tidak hanya yang berwarna orange seperti bintang laut kebanyakan. Bahkan sangat sering kami bertemu dengan bintang laut yang berwarna biru langit… 

Ditengah tengah ‘memanen’ hasil laut ini tak jarang pula kami ‘bertempur’ dengan para kepiting nakal yang sering sekali menjepit ujung jempol kaki maupun jari telunjuk dan jempol kami saat memunguti kerang dipantai..

 Itu cerita saat pasang surut. 

Cumi Woku Tinta ala Manado
Saat pasang naikpun tidak kalah serunya. Kami biasanya bermain ombak… yaa seperti berselancar gitu, tapi dengan cara tradisional.. Kami hanyalah anak anak pantai yang belum tersentuh modernisasi, jadi cukup puaslah bagi kami untuk menggondol papan tempat tidur yang kalah itu masih menggunakan tempat tidur besi, dengan kasur kapuk randu yang digelar di atas papan. Papan tempat tidur inilah yang biasanya diam diam kami bawa ke pantai guna berselancar *begitu bahasa kerennya -- tapi kami menyebutnya ‘balucur omba’ (meluncur di atas ombak).

Begitu nikmatnya permainan ini, sampai sampai kalau saya sekarang menonton orang berselancar di TV jadi merinding juga. Ternyata saat itu kami bermain main dengan maut. Ombak setinggi bermeter meterpun tidak kami hiraukan. Malah kami bisa tertawa tawa lepas, beteriak teriak kegirangan jika berada diatas ombak yang kan membawa kami ke daratan. 

Permainan yang cukup menegangkan tapi menurut kami adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan. Sampai sangking asyiknya kami bermain hingga lupa hari sudah menjelang sore, sampai para orang tuapun menjemput kami dipantai , ditakut takutin dengan ranting pohon jambu. Walaupun kami yakin kami tidak akan disakiti, tapi yaa takut juga… Jadi pulanglah kami dengan baju basah, lengket di badan dengan bibir yang sudah membiru dan gemetar melanda sekujur tubuh.. brbrbrbbr

Begitu bahagianya kami hidup di pesisir pantai, masa kecil yang indah dan begitu banyak berkat yang diberikan olehNya.

Jika saatnya tiba,sering  ada ikan ataupun cumi yang begitu banyak terdampar di pesisir pantai. Makhluk makhluk laut itu masih hidup. Terkadang ikan yang terdampar, kadang juga cumi. Tapi mereka tidak pernah terdampar dalam waktu yang sama. Cumi cumi yang terdampar itu Cumi kecil  kecil dan jika digoreng rasanya sangat manis.

Walaupun tidak sering terjadi, tapi minimal setahun 2 kali kesempatan itu datang.

Saya ingat kala terakhir mengalami masa itu pada tahun 1982, untuk selanjutnya memang sudah tidak pernah ada lagi.

Kala itu tengah malam, penduduk sekitar pada heboh, saling membangunkan satu sama lain guna beramai ramai ‘menjemput’ berkat Tuhan. Saat itu giliran si cumi kecil  terdampar di pesisir pantai. Berember ember cumi kami dulang, laksana mengambil air dalam bak yang airnya tidak habis habisnya. 

Begitu besar berkat yang Tuhan berikan kepada kami. Diambil sebanyak mungkin tetap tidak habis. Itupun dari kami tidak ada rasa egois. Tengah malam saya masih menelepon teman teman dan kerabat saya untuk mengajak mereka ramai ramai memanen berkat Tuhan yang sungguh luar biasa ini

Bener seperti kata grup band Koes Plus (Grup band jadul yang sangat ngetop kala itu) dalam lagu mereka yang berjudul ‘kolam susu’— beberapa baris saya kutip disini



kail dan jala cukup menghidupimu
tiada badai  tiada topan kau temui
ikan dan udang menghampiri dirimu



Malah menurut saya, lirik itupun masih terasa kurang jika menggambarkan berkat Tuhan, karena kala itu kami tidak memerlukan kail dan jala. Yang kami perlukan hanya ember untuk mendulang berkatNya

Itulah kali terakhir kami merasakan  suntung tadampar’ (cumi terdampar)…. Sekarang ini, sudah tidak ada lagi… Pantai arena bermain kami semasa kanak kanak sudah berubah menjadi kawasan Boulevard, Mega Mas dan berbagai tempat hiburan lainnya.

Tanpa komentar saya menanggapi kejadian ini, walaupun saya sangat sedih kehilangan tempat bermain dan tempat mendulang berkat yang sangat luar biasa.
 
 Kini kami hanya dapat mengenang, bersamaan dengan itu pula,  saya mengenangnya melalui sedikit tulisan saya dalam menu  Cumi Woku TInta’ ini

Cumi woku tinta juga dalam bahasa Manado dikenal dengan nama suntung garo… Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Suntung berarti cumi, sedangkan garo berarti garuk yang dalam konteks ini adalah irus yang digaruk garuk di wajan….* Lucu ya bahasa orang Manado ini

Dalam mengkonsumsi cumi, kami kaum pesisir pantai sangat suka mengkonsumsi tinta cumi. Apalagi yang masih segar. Perut cuminya masih gendut dan kencang,,, So pasti tintanya masih oke

Kantong tinta yang berwarna ungu tua itu tidak kami buang saat membersihkan cumi, bahkan diusahakan dengan sangat hati hati agar kantong tintanya tidak pecah, sehingga gurih fresko (segar)nya tetap terasa di lidah.

Ok… mau tau cara masaknya? Simak yuk

Resep Cumi Woku Tinta ala Manado

Bahan
  • 10 -15 ekor cumi kecil
  • 1 sdm air perasan jeruk nipis
  • 5 – 10 buah Cabe rawit atau tergantung selera - dihaluskan
  • 5 Bawang Merah
  • 2 cm Jahe
  • 2 cm Kunyit
  • 1 lembar Daun Pandan ukuran sedang
  • 1 lembar Daun Kunyit ukuran sedang
  • 3/4 sampai 1 genggam daun Kemangi yang sudah dipetik dari batangnya
  • 1 buah Sereh besar. Kalau yang kecil pakai 2 buah - dimemarkan
  • 5-10 lembar Daun jeruk
  • Minyak goreng untuk menumis
  • Air secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Bumbu masak (jika mau), tapi tanpa bumbu masak jug udah enak koq

Cara membuat
  • Bersihkan cumi dengan membuang tulang belakangnya. Jangan dibuang tintanya.
  • Potong potong cumi sesuai selera. Hati hati jangan sampai pecah kantong tintanya.
  • Campurkan cumi dengna air perasan jeruk nipis. Biarkan sebentar
  • Haluskan Cabe bersama sama dengan bawang merah, jahe dan kunyit.
  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan (cabe,bawang merah, jahe dan kunyit) sampai berbau harum.
  • Masukkan berturut turut Daun pandan, sereh, daun jeruk dan daun kunyit. Tumis sebentar tapi jangan sampai layu.
  • Masukkan kemangi, aduk sebentar. Tapi jangan sampai layu kemanginya.
  • Masukkan cumi. Tumis sebentar sampai semua bumbu bumbu layu.
  • Masukkan air sebanyak yang diinginkan. Tutup dan tunggu sampai cumi matang.
  • Tambahkan garam dan bumbu masak (jika mau) dengan jumlah sesuai selera.
  • Angkat dan siap disajikan.

Demikian resep  Cumi Woku Tinta ala Manado. Semoga dapat memperkaya dunia perkulineran Indonesia khususnya kuliner Manado.


Penasaran dengan resep masakan Manado lainnya? Yuk simak


No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas komentarnya. Mohon komentarnya tidak mengandung unsur SARA, SEX dan POLITIK