Resep cara membuat Babi Bout ala Manado

Babi Bout --- Kuliner khas Tanah Minahasa (baca : Manado) ini mungkin belum sepopuler dibanding dengan bubur Manado, Ayam Bumbu RW, tinorangsak ataupun aneka kuliner Manado lainnya. Setahu saya, sajian Babi Bout ini hanya ‘beken’ di daerah seputaran Danau Tondano. Bahkan tidak semua daerah Danau Tondanopun akrab dengan menu yang satu ini.

Babi Bout sering kali dihidangkan pada acara pesta di desa Kaweng (kecamatan Kakas).

Desa yang merupakan my second home ini adalah desa permai, disertai hamparan sawah luas dan berudara sejuk. Desa yang terletak di tepi danau vulkanik Danau Tondano dan juga terletak di kaki gunung Kaweng ini memang kurang terkenal di dunia pariwisata. Tetapi jika kita bicara tentang dunia olahraga dirgantara baik untuk paralayang ataupun gantole, desa ini  merupakan ‘primadona’. Berbagai kejuaraan baik nasional maupun lokal sering diselenggarakan di desa ini. 

Babi Bout
Desa Kaweng memang memiliki panorama alam yang sangat cocok untuk bergantole ataupun berpara layang, mulai dari letak perbukitan, posisi jalan raya maupun posisi lahan kering yang terbentuk secara alamiah, benar benar sangat menunjang untuk kenyamanan bermain gantole ataupun para layang

Desa Kaweng begitulah namanya, disebut  demikian karena terletak di kaki Gunung ‘Kaweng', dimana dalam bahasa Indonesia kata ‘Kaweng’ itu berarti ‘kawin’ .

Gunung Kaweng yang menurut cerita turun temurun ini dikatakan bahwa awalnya merupakan sepasang gunung kembar dimana separuhnya meletus pada zaman purba dan menjadi danau Tondano. 

Dinamakan gunung ‘kaweng’ atau 'kawin' (dalam bahasa Indonesia) karena, konon menurut legenda rakyat, gunung ini adalah sisa dari kutukan akibat perkawinan dua insan manusia yang melanggar sumpah mereka.

Dari cerita rakyat kuno yang beredar, disuatu masa dijaman lampau,   Tanah Minahasa memiliki sepasang gunung  kembar yang menjulang  tinggi, memisahkan daerah Tondano menjadi 2 bagian yakni Tondano Utara dan Tondano Selatan. 

Masing masing daerah ini memiliki ‘Tonaas’ (penguasa)nya. Tonaas bagian utara memiliki putri tunggal yang diberi nama Maribow, sedangkan Tonaas bagian selatan memiliki putra tunggal yang diberi nama Maharibow.
Karena kecemasan akan pewaris tahtanya, Tonaas dari daerah utara kemudian memerintahkan putrinya Maribow untuk berpakaian seperti seorang lelaki dan bersumpah untuk tidak menikah sampai dengan ayahnya meninggal. Jika sumpah tersebut dilanggar maka akan ada bencana yang melanda seluruh negeri.

Sang putri  Maribowpun menyanggupi syarat tersebut, dan  bersumpahlah dia dihadapan Opo Empung (Yang Maha Kuasa) untuk menjalankan titah ayahnya.

Demikian waktu berjalan, suatu saat sang putri dari utara Maribow bertemu dengan  sang pangeran dari selatan Maharibow. Walaupun Maribow berpakaian lelaki, tetapi Maharibow dapat merasakan adanya getaran bahwa sebetulnya sang Maribow ini bukanlah seorang pria.

Sangking penasaran, Maharibowpun mencari asal usul ‘pria’  bernama Maribow ini, sampai akhirnya Maharibow dapat meyakinkan bahwa Maribow ini ternyata seorang wanita. Singkat cerita, jatuh cintalah kedua insan manusia ini dan mereka sepakat untuk menikah, nekat meninggalkan kekuasaan yang akan diwariskan kepada mereka untuk kemudian hidup berbahagia di tengah hutan.

Sehari setelah pernikahan berlangsung, terjadilah kutukan itu. Bencana gempa bumi, gunung meletus dan semua wilayah porak porada dilanda lahar panas. Sampai akhirnya dari meletusnya gunung berapi ini terbentuk kawah dan lambat laun kawah ini digenang air dan terciptalah danau Tondano. Sementara gunung meletus yang masih tersisa sebagian itu dinamakanlah gunung Kaweng  yang masih eksis hingga saat ini.

Gunung yang bertinggi sekitar 1000 meter, konon masih dianggap angker oleh sebagian masyarakat setempat. Dan menurut kepercayaan juga, jika kita berada di gunung tersebut, kita harus diam, Jika bersuara apalagi ribut, maka akan ada kabut yang menutupi area tersebut, hingga kitapun tidak sanggup melihat apa yang terjadi di depan mata. Soal kebenarannya juga saya belum membuktikannya.  Dan jikalau itu benar, biarlah para ahli yang menjelaskan fenomena alam itu secara ilmiah.

Ahaa.. itu hanya soal keangkeran gunung Kaweng, tetapi masyarakat desa Kaweng itu tidak angker loh… Mereka tergolong ramah, dan sebagaimana budaya masyarakat Tanah Minahasa juga senang bermasyarakat. senang berpesta dengan aneka hidangan yang berlimpah dan diantaranya juga hidangan babi bout ini.

Tidak jelas apakah babi bout ini merupakan sajian warisan kolonial jaman Belanda atau bagaimana. 

Sekilas babi bout ini berpenampilan mirip seperti babi kecap. Namun cara masaknya berbeda.  Dalam babi bout terkandung rasa asam untuk menetralisir lemak babi.

So, penasaran dengan menu kuliner Manado yang tidak popular ini? Siimak yuk



Resep Babi Bout Manado


Bahan:

  • 500 gr daging Babi bagi 4 potong
  • 1/2 bungkus Asam jawa - Larutkan dalam air panas, tapis
  • 5 – 6 butir bawang merah
  • 5-6 butir bawang putih
  • 2 sdm kecap manis
  • Saos tiram secukupnya
  • Minyak wijen secukupnya 

Cara membuat Babi Bout

  • Campurkan daging dengan bawang putih, bawang  merah dan asam jawa. Diamkan sekitar 1 jam
  • Rebus campuran di atas. Taruh air sampai bumbu dan daging tenggelam
  • Rebus hingga air rebusan kering
  • Goreng dalam keadaan masih dalam potongan besar
  • Angkat jika sudah matang, tiriskan sebentar, jangan lama lama
  • Buang sisa minyak di wajan
  • Masukkan lagi daging di wajan yang masih panas. Masukkan kecap asin, saos tiram. Aduk cepat
  • Masukkan minyak wijen. Oseng cepat. Angkat.
  • Potong potong jika akan disajikan

Catatan:
Untuk minyak wijen dan saus tiram sudah merupakan bahan modifikasi yang saya tambahkan untuk menambah kelezatan masakan ini. Resep aslinya tidak ada kedua bahan ini. Hanya itu saja modifikasinya. Cara memasaknya masih seperti aslinya.


Demikian Resep cara membuat Babi Bout Manado.. Semoga dapat meramaikan meja makan sobat sekalian.

2 comments:

Terima kasih atas komentarnya. Mohon komentarnya tidak mengandung unsur SARA, SEX dan POLITIK